Merasa idemu bagus, lalu mau bikin startup. Yakin?

Beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia baru booming tentang startup digital. Melihat keberhasilan Gojek, Tokopedia, Traveloka, Bukalapak yang menjadi deretan startup dengan valuasi lebih dari 13 Triliun Rupiah mungkin membuat banyak orang mulai ingin menjadi the next Nadiem Makarim, the next William Tanuwijaya, atau mungkin ingin menjadi the next Achmad Zaky. Tak terkecuali deretan mahasiswa jurusan informatika.

Beriringan dengan semakin banyaknya program yang mendorong pertumbuhan startup digital, semakin banyak pula mahasiswa yang merasa bahwa idenya akan menjadi the next Gojek dimasa yang akan datang. Yah, meskipun ditahun 2018 ini tampaknya sudah mulai berkurang, mungkin karena sudah banyak yang berfikir realistis bahwa mendirikan startup itu bukanlah suatu hal yang mudah, lagi pula sudah mulai terbukti banyak yang tumbang juga.

Lalu, Bermimpi besar untuk menjadi the next Nadiem Makarim apakah salah? Tentu saja tidak. Hanya saja kita sering kali hanya melihat kesuksesannya saja, tidak banyak yang melihat perjuangan dan kerja keras dibalik itu semua. Apakah kamu yakin mau berjuang dan bekerja keras jika kamu tetap memilih untuk membuat startup?

Coba tanyakan lagi pada dirimu sendiri, apa sih alasan kamu sampai akhirnya kamu memutuskan ingin membangun startup?

Jika alasannya karena kamu ingin menjadi kaya, sebaiknya pikirkan kembali deh keputusanmu untuk membangun startup. Karena kalau tujuannya untuk sekedar menjadi kaya, banyak cara yang bisa ditempuh lho tanpa harus membuat startup. Membuka usaha dibidang non teknologi juga bisa membuat kaya lho, buktinya hingga tahun 2018, belum ada tuh founder startup asal indonesia yang tercatat sebagai 10 besar orang terkaya di Indonesia.

Jika alasannya karena kamu gak ingin kerja sama orang atau mungkin bingung mau ngapain karena sulit mencari kerja, sebaiknya coba pikirkan kembali. Dah yakin mau bikin startup?

Seperti yang kita tahu Nadiem Makarim mendirikan gojek bukan karena dia sulit mencari kerja, dia lulusan MBA Harvard Business School lho, dan dia juga pernah bekerja beberapa tahun di perusahaan dengan jabatan yang tinggi. Jadi jika kamu merasa skillmu masih biasa-biasa saja, sebaiknya mulailah dengan mencari pengalaman bekerja di startup yang sedang berkembang untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya sebelum pada akhirnya kamu membangun startupmu sendiri.

Namun jika alasanmu ingin membangun startup karena kamu melihat suatu masalah yang besar, yang menurut kamu harus segera diselesaikan. Dan kamu juga merasa bahwa kamu mampu berkontribusi untuk memecahkan masalah tersebut serta mau mencurahkan seluruh waktu, energi, pikiran, dan seluruh sumber dayamu untuk menyelesaikan masalah itu. Maka mulailah berikhtiar. Apakah ada jaminan berhasil? Belum tentu. Maka cobalah mulai dengan mencari jawaban dari beberapa pertanyaan ini sebagai wujud ikhtiar-mu.

  1. Apakah ide/masalah nya sudah divalidasi?
    Ini adalah salah satu faktor yang sangat penting untuk menentukan keberhasilanmu. Jangan pernah berasumsi dan mengeneralisir masalah. Jangan sampai karena kamu merasa itu masalah buat kamu, maka kamu anggap semua orang punya masalah tersebut, selalu uji dan validasi asumsimu.
    .
    Sebagai contoh, kamu melihat banyak orang tua kesulitan mencarikan anaknya guru les privat, sementara kamu melihat banyak pula guru les privat yang kesulitan mencari siswa. Maka kamu punya ide untuk membuat platform yang bisa menghubungkan mereka.
    .
    Lalu bagaimana cara memvalidasi masalah tersebut?
    Sebagai salah satu contoh, kamu dapat memulai mengumpulkan 50–100 data guru les privat disekitar tempat tinggalmu, lengkap dengan biaya serta fasilitasnya. Selanjutnya kamu perlu memvalidasi dari sisi orang tua siswa, kamu bisa mulai dengan datang ke sekolah disaat sekolah mengadakan kegiatan yang mengundang orang tua siswa ke sekolah, lalu coba interview dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka agar mereka mau bercerita mengenai masalahnya. Anggaplah ternyata dari 100 orang tua, hanya 60 orang yang punya masalah ini. Sekarang dari 60 orang tua tersebut, coba kamu tawarkan brosur yang memuat list guru les privat yang kamu punya, jangan lupa mencantumkan biaya dan fasilitasnya. Jangan lupa juga menyantumkan nomor telepon kamu agar kamu dapat menghitung berapa orang yang akhirnya tertarik menggunakan layananmu. Jika dari 60 orang tersebut ternyata banyak yang akhirnya memakai jasa les privat dari data kamu, maka setidaknya masalah yang kamu coba selesaikan memang valid.
    Namun jika ternyata tidak ada satupun orang yang menghubungi kamu, bisa jadi itu memang bukan menjadi masalah buat mereka, atau bisa jadi kamu melakukan kesalahan ketika validasi. Coba evaluasi lagi dan lakukan iterasi.
    .
    Kamu tidak perlu punya keahlian coding untuk melakukan hal ini. Tahapan validasi terdengar sederhana, tapi kebanyakan dari mahasiswa IT “malas” &/ “malu” &/ “merasa tidak ada waktu” untuk melakukan tahapan ini.

Setidaknya ada 5 hal itu yang harus kamu jawab. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kalian yang baru mencoba untuk memulai membangun produk digital. Mudah-mudahan produkmu cepat launching dan sukses di pasar.

Jika kamu butuh mentor untuk teman diskusi, kamu bisa datang ke Inkubator ABP Yogyakarta. Di sana ada program yang bernama StartupClinic, kamu bisa berkonsultasi tentang masalah di startupmu dengan mentor-mentor ABP secara gratis. Kalian bisa follow IG @amikombizpark, jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan.

Startup Ecosystem Player | CEO PT. Jendela Digital Indonesia | Director at ABP Incubator | Regional Head at UMG Idealab (C.V.Capital) | donni.official@gmail.com

Startup Ecosystem Player | CEO PT. Jendela Digital Indonesia | Director at ABP Incubator | Regional Head at UMG Idealab (C.V.Capital) | donni.official@gmail.com